Efek Negatif Terima Uang Serangan Fajar Timbulkan Rasa Bersalah Selama 5 Tahun

Oleh: Badia.S.

Cilegon, LN – Politik uang dalam pesta demokrasi sudah menjadi rahasia umum yang tidak terbantahkan, walaupun dalam peraturan UU tentang Pimilu tepatnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan Pasal 187 A ayat 1 dan 2 UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada bahwa bentuk serangan fajar tidak terbatas pada uang, faktanya semakin pasif praktek politik uang tersebut yang dilakukan para peserta pemilu.

Penulis mengimplementasikan sejauh apa dampak bagi penerima politik uang atau bahasa sehari hari ‘Serangan Fajar’ kepada kehidupan bermasyarakat di negara demokrasi ini, secara implisit dampak dari politik uang tergantung pada nilai-nilai moral masyarakat, yang tentunya secara kaidah normal kehidupan tidak dibenarkan.

Ada 2 pendapat di publik yang berkembang terhadap menerima politik uang atau menerima uang ‘Serangan Fajar’ pertama ada istilah ‘ Bodo Amat’ dan ‘ Rasa Bersalah’ kalau tipe bodo amat cendrung menerima bentuk politik uang, walaupun pada saat hari pencoblosan belum tentu memilih calon legislatif baik DPRD kabupaten/kota, Provinsi, DPR-RI, DPD-RI atau Capres -Wacapres yang sudah diterima dari uang serangan fajar tersebut.

Tipe yang kedua adalah merasa ‘Serba Salah’ terkait tipe ini penerima seakan-akan terpojok dalam hatinya, kemudian sepertinya akan menentukan pilihannya untuk mencoblos pada hari penentuan, dimana tipe seperti ini akan merasakan serba salah selama 5 tahun ini.golongan seperti ini cendrung orang orang yang memiliki rasa simpatik yang tinggi, karna melihat kepemimpinan baik legislatif dan eksekutif terkesan jauh dari harapan.

Penulis mengkhawatirkan kondisi politik saat ini, jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan pendapat pendapat negatif di tengah-tengah masyarakat, padahal jelas kedaulatan tertinggi adalah di tangan rakyat, namun jika elite elite politik sudah memoles dengan strategi yang mungkin melenceng dari awal niat para pendiri negara ini, maka rakyat akan beranggapan seperti tipe pertama memiliki pemikiran tipe ‘Bodo Amat’

Melalui rubrik opini ini berharap publik masyarakat Indonesia memiliki rasa kesadaran yang tinggi tentang apa itu demokrasi, dimana tujuannya jelas akan menciptakan para pemimpin baik di legislatif dan eksekutif yang memiliki integritas moral yang tinggi yang akan benar-benar tujuannya mensejahterakan rakyat.

Seperti apa sih makna dari serangan fajar, ini ulasannya “Serangan Fajar” merupakan istilah populer dari politik uang. Berdasarkan Pasal 515 dan Pasal 523 ayat 1-3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan Pasal 187 A ayat 1 dan 2 UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada bahwa bentuk serangan fajar tidak terbatas pada uang.

Namun, juga dalam bentuk lain seperti paket sembako, voucher pulsa, voucher bensin, atau bentuk fasilitas lainnya yang dapat dikonversi dengan nilai uang di luar ketentuan bahan kampanye yang diperbolehkan sesuai dengan Pasal 30 ayat 2 dan 6 Peraturan KPU (PKPU) Nomor 8 Tahun 2018.

Aturan mengenai bahan kampanye yang diperbolehkan oleh KPU dan bukan termasuk dalam serangan fajar dijelaskan secara rinci pada Pasal 30 ayat 2 yang berbunyi: Bahan kampanye dalam bentuk selebaran/flyer, brosur/leaflet, pamphlet, poster, stiker, pakaian, penutup kepala, alat minum/makan, kalender, kartu nama, pin, dan atau alat tulis.

Adapun pada ayat 6 yang berbunyi: Setiap bahan kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila dikonversikan dalam bentuk uang nilainya paling tinggi Rp 60.000.(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *