‘Serangan Fajar’ Mengantarkan Empuknya Menduduki Kursi Anggota Legislatif, Bawaslu Mati Rasa ?

Oleh : Badia Sinaga.

Cilegon, LN – Ada yang senang, ada yang depresi inilah yang muncul beberapa hari ini di media sosial, baik plafon youtube dan akun instagram, twitter, Facebook, whatsapp, tik-tok dan aplikasi lainnya, gambaran seperti ini memberikan sudut pandang beragam, namun semua peristiwa ini adalah buntut dari demokrasi yang menghambat terciptanya pemilu yang adil dan berintegritas.

Praktik politik uang dalam kontestasi politik menjadi lumrah karena sudah membudaya, mempengaruhi sistem politik demokrasi, dan pada akhirnya menjadi sebab politik berbiaya tinggi.lalu bagaimana kah kelanjutan demokrsi Indonesia kedepan ini,apakah praktik politik uang ini akan terus berkembang, lalu untuk apa badan pengawas pemilu (Bawaslu),

Pada pemilihan umum ditahun 2024 ini bentuk praktik politik uang atau serangan fajar menggambarkan bagaimana ketidakberdayaan Bawaslu, bahkan sebagian nitizen menilai Bawaslu terkesan mati rasa, layakkah Bawaslu dibubarkan..?

Penulis menggambarkan bagaimana seseorang yang mau ber kontestasi didunia politik dari hilir ke hulu sudah dimulai dengan uang, logistik yang besar berpeluang menduduki empuknya kursi anggota legislatif, tentunya dengan strategi yang dimainkan oleh tim, wawasan pengetahuan Intekektual belum dominan,sebenarnya orang-orang yang menjadi perwakilan rakyat adalah mereka yang memiliki kemampuan wawasannya diatas rata-rata, namun faktanya logistik lah yang dominan.

Padahal ketika duduk menjadi anggota legislatif, banyak tugas yang harus dilakukan, bagaimana tidak untuk mengawasi eksekutif harus benar-benar dapat memahami fungsi dan tugas, sebagian besar
tugas utama lembaga legislatif adalah membuat undang-undang, namun lembaga legislatif juga memiliki tugas-tugas lain seperti menyusun rencana pembangunan nasional, menetapkan kebijakan, menetapkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pemerintahan dan hukum, dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang.

Penulis memberikan contoh situasi pemilu di provinsi Banten, khusus di kota Cilegon, pemerintahan daerah yang hanya memiliki 43 kelurahan dari 8 kecamatan ini sebanyak 40 anggota legislatif yang diperebutkan, dan seperti informasi yang didapat banyak wajah wajah baru yang terpilih atau memenangkan, dan juga banyak usia muda atau milenial, tentunya menarik khabar yang didapat berseliuran di publik SF’Serangan Fajar’ gila gilaan siapa yang terbesar nilai uang berpeluang menang.

Serangan fajar, istilah yang akrab di telinga masyarakat Indonesia merujuk pada praktik politik uang yang dilakukan menjelang hari pemungutan suara. Praktik ini bagaikan hantu yang membayangi demokrasi Indonesia, menggerogoti nilai-nilai luhur, dan menghambat terciptanya pemilu yang adil dan berintegritas.

Dalam dunia politik Indonesia, serangan fajar adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk politik uang dalam rangka membeli suara yang di lakukan oleh satu atau beberapa orang untuk memenangkan calon yang bakal menduduki posisi sebagai pemimpin politik.

Serangan fajar umumnya menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah dan kerap terjadi menjelang pelaksanaan pemilihan umum. Bentuk politik uang yang dilakukan adalah dengan cara membagi-bagikan uang menjelang hari pemungutan suara dengan tujuan agar masyarakat memilih partai atau kader tertentu.

Berdasarkan Pasal 515 dan Pasal 523 ayat 1-3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan Pasal 187 A ayat 1 dan 2 UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada bahwa bentuk serangan fajar tidak terbatas pada uang. Namun, juga dalam bentuk lain seperti paket sembako, voucer pulsa, voucer bensin, atau bentuk fasilitas lainnya yang dapat dikonversi dengan nilai uang di luar ketentuan bahan kampanye yang diperbolehkan sesuai dengan Pasal 30 ayat 2 dan 6 Peraturan KPU (PKPU) Nomor 8 Tahun 2018.

Pesan penulis untuk wakil rakyat, diambil sebagian lirik lagu “Wakil Rakyat” Iwan fals.

“Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan, Jangan ragu jangan takut karang menghadang,Bicaralah yang lantang jangan hanya diam,Wahai sahabat”

“Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu setuju”

(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *