Suaranya khas, sedikit berada di alur nada yang tinggi, tidak seperti alunan langgam Jawa yang mengalir, detak iramanya terasa lebih cepat, lebih tersentak sesuai dengan ketukan yang mengalun. Sementara irama pentatonik dan salendro dari lima nada yang berulang dimainkan lewat ragam gamelan dan angklung yang serentak menciptakan irama yang membuat orang bergerak untuk menikmatinya. Rindik, alat musik tradisional khas Bali tercipta dari sejarah panjang kekayaan seni dan budaya di Indonesia, khususnya di pulau Jawa dan Bali. Pelancong yang datang dari luar Bali dan mendengarkan alunan ini akan segera sadar bahwa mereka telah berada di pulau yang indah ini. Bagi siapapun yang mendengarkan Rindik dimainkan dimanapun akan berhenti dan menikmati nada-nada salendro yang dihasilkan oleh alat musik tradisional khas Bali ini.
Setibanya di Bali, pemusik-pemusik Majapahit mengalami kesulitan untuk merangkai kembali gamelan-gamelan yang dibawanya, termasuk angklung yang juga diangkut. Angklung Bali memang tidak sama dengan alat musik yang berasal dari Jawa, namun cara memainkannya sama dan menghasilkan suara yang sama seperti gamelan yang dibuat dari bahan logam.
Satu rindik dimainkan dengan dua atau tiga pemukul, satu dipegang di tangan kiri dan satu atau dua di tangan kanan. Biasanya melodi yang mengalun dihasilkan oleh nada yang dipukul dari tangan kiri sedangkan tangan kanan memainkan pola yang menciptakan suara nada yang terkait untuk mengiringi melodi di tangan kiri.
Dalam satu rangkaian alat musik rindik biasanya dimainkan oleh dua sampai lima orang pemain dimana dua orang memainkan rindik dan sisanya mengiringi dengan irama seruling serta gong pulu. Seperti banyak alat musik tradisional lainnya, nada dasarnya hanya lima dan karena itulah ia disebut alat musik pentatonik bernada salendro.
Suara alunan dan irama rindik pun terdengar lebih keras dari gamelan Jawa yang menjadi cikal bakal sejarah terciptanya rindik. Alat musik tradisional Bali ini juga lebih fleksibel dalam menampilkan instrumentasi melodi modern dibanding dengan musik gamelan Jawa modern sekalipun. Ini terbukti dengan banyaknya pemusik-pemusik jazz modern menggunakan nada pentatonik salendro dari rindik untuk menciptakan komposisinya dengan alat musik rindik yang beralunan cepat dan energik itu.
Dengan berkembangnya pariwisata Bali dimana para wisatawan datang berbondong-bondong untuk menikmati keindahan alam dan budaya pulau Bali, maka semakin dikenal lah alunan musik rindik yang terdengar begitu cantiknya ini. Tidak hanya itu, musik Bali yang tercipta lewat alunan rindik pun telah banyak direkam dan disebarluaskan ke berbagai negara lewat bermacam kanal. Dan, alunannya bukan hanya dicintai oleh turis-turis asing tapi juga oleh orang-orang Indonesia sendiri yang selalu akan teringat keindahan pulau Bali lewat alunan musik rindik ini. (K-SB)







