Oleh : Badia Sinaga.
Cilegon, LN – Sebagai pemerhati publik penulis melihat fenomena dalam kontestasi pilkada(Pemilihan Kepala Daerah) serentak tahun 2024 tidak asing jika ada hal hal yang tidak lazim akan terjadi di tengah-tengah lingkungan masyarakat seperti ‘Tiba-Tiba Orang Baik'(TTOB) ada yang menggunakan adu domba (saling menjelekkan) tentunya masyarakat diminta untuk bijak memilih untuk pemimpin yang tepat jangan salah memilih didaerah masing-masing.
Sarana yang efektif digunakan para tim sukses para calon pemimpin daerah untuk memperkenalkan jagoannya adalah media sosial (medsos) dimana
media sosial merupakan platform yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari.ada 7 media sosial yang kerapkali digunakan untuk mempromosikan keunggulan para calon pemimpin daerah ada Facebook, Whatsapp, twitter, telegram, tiktok, instagram dan youtube.
Nitizen atau publik yang mana juga tentunya bagian dari hak pemilih dituntut lebih bijak untuk menentukan pilihan kepala daerah jika ada menawarkan politik uang dengan berbagai rayuan tentunya harus diwaspadai, silakan saja menerima uang namun untuk memilih hurus berpikir jernih,ajang pilkada ini akan ada mengumbar rayuan, aksi gimik, tebar pesona bermodal retorika, hingga saling tantang dan melancarkan jurus menyerang lawan.
Kampanye yang semestinya menjadi kesempatan melakukan komunikasi politik untuk menarik simpatik khalayak banyak, malah sering berujung blunder, kontraproduktif, dan menimbulkan antipati. Kalau saja mereka mampu menyingkirkan ambisi mendapatkan suara dengan segala cara, mungkin bisa membuatnya tampil elegan dan lebih menawan.
Penulis mencoba membuka mata hati bagi hak pemilih yang mana menurut populasinya terbanyak didominasi oleh generasi Z dan milenial dengan proporsi 55% dari total pemilih—33,60% untuk generasi milenial dan 22,85% untuk generasi Z.sebagai usia muda tentukan pemimpin yang tepat yang memiliki leader yang bukan kata-kata dan janji janji melainkan gagasan-gagasan yang diterima akal sehat.
Jika memilih menggunakan akal sehat maka tentu akan berdampak positif terhadap pilihan pemimpin masa depan didaerahnya, yang akan bermuara terhadap pencapaian peningkatan kesejahteraan masyakarat di wilayah masing –masing.
Nitizen dan publik harus mengetahui bagaimana besarnya ongkos para calon pemimpin daerah, jika dari awal memang kader di partai politik tentunya tidak sebanyak yang bukan dari kader partai.para calon pemimpin daerah tersebut harus mengikuti mekanisme adrt partai politik tersebut, sehingga wajar menggunakan strategi untuk memenangkan dalam kontestasi politik walaupun menggunakan cara-cara yang kurang elok.
Gunakan strategi komunikasi, terutama untuk mengambil hati para pemilih dari kalangan generasi milenial dan Z. Antara lain, konten, konteks, komentar (3K). “Ketiganya adalah bagian penting dalam menghasilkan informasi yang berkualitas.
Penulis melihat dalam Pilkada Serentak tahun 2024 ini cukup banyak menggunakan kata kata tagline,slogan, janji, visi, misi para calon kepala daerah tentunya itu tidak soal sejauh benar benar terlaksana jika terpilih, namun mari netizen,publik cari tahu apa kegiatan /usaha para calon pemimpin daerah karna itu sangat penting agar daerah yang dipimpin kelak nanti benar benar mengutamakan kesejahteraan rakyat bukan kelompoknya.(Red)














