Senin, 25 Mei 2026

Akal-akalan Para Cukong Dalam Menguasai Kancah Politik Indonesia

Lugas.net, 31 August 2020, 16:52
                     Desmond J. Mahesa, 

JAKARTA~~LUGAS.NET

Desmond J. Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata cukong berarti orang yang mempunyai uang banyak yang menyediakan dana atau modal yang diperlukan untuk suatu usaha atau kegiatan orang lain dan  pemilik modal.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, cukong adalah menunjuk kepada pengusaha-pengusaha pemilik perusahaan besar di Indonesia. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang lazim dilafalkan di Indonesia oleh suku Tionghoa-Indonesia. Cukong (Hanzi: 主公, hanyu pinyin: zhugong) dalam bahasa Hokkian atau bahasa Mandarin berarti pemimpin; ketua; pemilik; bos. Cukong juga sering disebut dengan taipan (dalam bahasa Jepang) yang artinya tuan besar.

Sampai pada tahun 1950-an, cukong masih digunakan sebagai kata untuk merujuk bos atau majikan, namun setelah 1960-an, cukong kemudian mulai mendapat konotasi negatif karena sering dirujuk kepada pengusaha-pengusaha dari suku tertentu terutama suku Tionghoa-Indonesia.

Konotasi negatif  tersebut  kemudian menjadi-jadi setelah pemerintah Orde Baru menciptakan opini publik bahwa pengusaha Tionghoa mayoritas terlibat dalam praktik kolusi, korupsi dan nepotisme dalam perbisnisan mereka. Dan memang masyarakat pribumi sendiri sering berperasangka buruk atau merasa didiskriminasi karena kurangnya kemampuan atau keahlian dalam mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang dimiliki para cukong ini sehingga membuat opini jelek dengan kata cukong/ masyarakat keturunan. 

Para cukong yang identik dengan orang kaya berduwit tersebut saat ini memang dianggap sebagai aktor yang menentukan dalam percaturan politik di Indonesia karena kekuatan uang yang dimilikinya. Sehingga muncul aggapan bahwa pada dasarnya kondisi perpolitikan di Indonesia sesungguhnya telah dikuasai oleh para cukong yang menjadi pengendalinya.

Benarkah hakekatnya para cukong telah menguasai Indonesia ?, Bagaimana cara cukong cukong politik itu mengendalikan Indonesia ?, Bagaimana upaya partai politik untuk meminimalkan peran cukong mengobok obok Indonesia ?

*Hakekatnya Negara Telah Dikuasai Cukong*

Majalah Forbes pernah merilis data bahwa satu persen orang kaya di Indonesia menguasai 50 persen kekayaan negara. Sementara itu menurut Bank Dunia, 10 persen orang kaya kuasai 77 persen kekayaan negara Indonesia. 23 persen sisanya diperebutkan oleh 90 persen penduduk negeri yang kebanyakan adalah rakyat jelata.

Majalah Tempo terbitan 13 Pebruari 2015 pernah memberitakan bahwa  sebanyak 25 grup perusahaan kelapa sawit menguasai lahan seluas 5,1 juta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 kilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), sebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum ditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta hektare.

“Kelompok perusahaan itu dikendalikan 29 taipan yang perusahaan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar negeri,” kata Direktur Program Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, Rahmawati Retno Winarni, Jumat, 13 Februari 2015. Lembaga TuK dan Profundo merilis hasil riset dengan judul “Kendali Taipan atas Grup Perusahaan Kelapa Sawit di Indonesia”.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun lalu itu mendapatkan data bahwa kekayaan total mereka pada 2013 sebesar US$ 71,5 miliar atau Rp 922,3 triliun. Angka konservatif ini diperoleh dari kajian yang dibuat Forbes danJakarta Globe. Sebagian besar kekayaan tersebut didapat dari bisnis perkebunan sawit, dan beberapa bisnis lainnya.

Siapa para taipan–yang menguasai kelompok perusahaan sawit itu? Mereka adalah Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus dkk), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine Matheson (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting (Lim Kok Thay, Malaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), Surya Dumai (Martias dan Ciliandra Fangiono), dan Provident Agro (Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno).

Lalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo (George Tahija), Bakrie (Aburizal Bakrie), BW Plantation-Rajawali (Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny Subianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI (Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas (Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung Lingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, dan Budhi Istanto), dan Triputra (TP Rachmat dan Benny Subianto).(**Red) Bersambung..

Sumber:LAW JUSTICE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Akal-akalan Para Cukong Dalam Menguasai Kancah Politik Indonesia

Lugas.net, 31 August 2020, 16:52
                     Desmond J. Mahesa, 

JAKARTA~~LUGAS.NET

Desmond J. Mahesa, Wakil Ketua Komisi III DPR RI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata cukong berarti orang yang mempunyai uang banyak yang menyediakan dana atau modal yang diperlukan untuk suatu usaha atau kegiatan orang lain dan  pemilik modal.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, cukong adalah menunjuk kepada pengusaha-pengusaha pemilik perusahaan besar di Indonesia. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang lazim dilafalkan di Indonesia oleh suku Tionghoa-Indonesia. Cukong (Hanzi: 主公, hanyu pinyin: zhugong) dalam bahasa Hokkian atau bahasa Mandarin berarti pemimpin; ketua; pemilik; bos. Cukong juga sering disebut dengan taipan (dalam bahasa Jepang) yang artinya tuan besar.

Sampai pada tahun 1950-an, cukong masih digunakan sebagai kata untuk merujuk bos atau majikan, namun setelah 1960-an, cukong kemudian mulai mendapat konotasi negatif karena sering dirujuk kepada pengusaha-pengusaha dari suku tertentu terutama suku Tionghoa-Indonesia.

Konotasi negatif  tersebut  kemudian menjadi-jadi setelah pemerintah Orde Baru menciptakan opini publik bahwa pengusaha Tionghoa mayoritas terlibat dalam praktik kolusi, korupsi dan nepotisme dalam perbisnisan mereka. Dan memang masyarakat pribumi sendiri sering berperasangka buruk atau merasa didiskriminasi karena kurangnya kemampuan atau keahlian dalam mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang dimiliki para cukong ini sehingga membuat opini jelek dengan kata cukong/ masyarakat keturunan. 

Para cukong yang identik dengan orang kaya berduwit tersebut saat ini memang dianggap sebagai aktor yang menentukan dalam percaturan politik di Indonesia karena kekuatan uang yang dimilikinya. Sehingga muncul aggapan bahwa pada dasarnya kondisi perpolitikan di Indonesia sesungguhnya telah dikuasai oleh para cukong yang menjadi pengendalinya.

Benarkah hakekatnya para cukong telah menguasai Indonesia ?, Bagaimana cara cukong cukong politik itu mengendalikan Indonesia ?, Bagaimana upaya partai politik untuk meminimalkan peran cukong mengobok obok Indonesia ?

*Hakekatnya Negara Telah Dikuasai Cukong*

Majalah Forbes pernah merilis data bahwa satu persen orang kaya di Indonesia menguasai 50 persen kekayaan negara. Sementara itu menurut Bank Dunia, 10 persen orang kaya kuasai 77 persen kekayaan negara Indonesia. 23 persen sisanya diperebutkan oleh 90 persen penduduk negeri yang kebanyakan adalah rakyat jelata.

Majalah Tempo terbitan 13 Pebruari 2015 pernah memberitakan bahwa  sebanyak 25 grup perusahaan kelapa sawit menguasai lahan seluas 5,1 juta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 kilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), sebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum ditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta hektare.

“Kelompok perusahaan itu dikendalikan 29 taipan yang perusahaan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar negeri,” kata Direktur Program Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, Rahmawati Retno Winarni, Jumat, 13 Februari 2015. Lembaga TuK dan Profundo merilis hasil riset dengan judul “Kendali Taipan atas Grup Perusahaan Kelapa Sawit di Indonesia”.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun lalu itu mendapatkan data bahwa kekayaan total mereka pada 2013 sebesar US$ 71,5 miliar atau Rp 922,3 triliun. Angka konservatif ini diperoleh dari kajian yang dibuat Forbes danJakarta Globe. Sebagian besar kekayaan tersebut didapat dari bisnis perkebunan sawit, dan beberapa bisnis lainnya.

Siapa para taipan–yang menguasai kelompok perusahaan sawit itu? Mereka adalah Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus dkk), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine Matheson (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting (Lim Kok Thay, Malaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), Surya Dumai (Martias dan Ciliandra Fangiono), dan Provident Agro (Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno).

Lalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo (George Tahija), Bakrie (Aburizal Bakrie), BW Plantation-Rajawali (Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny Subianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI (Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas (Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung Lingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, dan Budhi Istanto), dan Triputra (TP Rachmat dan Benny Subianto).(**Red) Bersambung..

Sumber:LAW JUSTICE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *