Serang, LN – Faiz Naufal Alfarisi, Presiden Mahasiswa DEMA UIN Banten angkat bicara soal penggrudukan masuk ke dalam ruang kerja Gubernur Banten saat aksi Demonstrasi, Faiz mengatakan bahwa
“Sebetulnya penerobosan ke ruang kerja pemerintah yang dilakukan serikat buruh Banten dalam aksinya kemarin merupakan hal yang biasa dan memang bisa terjadi dalam aksi demonstrasi, yang mana massa aksi masuk kedalam ruang-ruang kerja, sebetulnya untuk bisa berdialog secara langsung ketika aksi yang dilakukan tidak mendapat jawaban dari pihak terkait. Karena tak sedikit pula yang demikian, bahkan ada yang masuk saat pelaksanaan sidang Paripurna dan lain-lain.”minggu 26/12/2021.
Sebelumnya diketahui bahwa Aksi demonstrasi yang dilakukan para serikat buruh di Kawasan Pusat pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) merupakan aksi guna meminta adanya revisi besaran UMP-UMK tahun 2022.
Aksi para buruh itu terjadi pada Rabu (22/12). Dalam rekaman video yang beredar, tampak para buruh masuk ke ruang kerja Gubernur Banten Wahidin Halim. Dalam vidio tersebut, sejumlah buruh mengambil aneka minuman dan makanan ringan di ruang kerja Gubernur sambil berfoto-foto. Bahkan ada yang duduk di kursi gubernur.
Menurut Faiz, adapun kegiatan buruh di dalam ruang kerja itu merupakan hal alamiah dari sifat seorang rakyat ketika bisa masuk kedalam ruang kerja pemerintah, “Adapun kegiatan yang terjadi di ruang kerja menurut saya pun, itu adalah hal alamiah dari seorang rakyat, yang mana itu merupakan bentuk euforia ketika bisa memasuki ruangan pemerintah, karena diluar daripada itu, ya kita ketahui bersama bahwa masyarakat biasa sulit untuk bisa masuk kesana. Adapun mereka berfoto ria dan mengambil sedikit makanan ringan ya mohon wajarkan saja, saya rasa mereka lapar. Toh belinya pun pakai uang rakyat. ” Tuturnya.
Diketahui pula, setelah itu muncul video pernyataan sikap pengecaman dari BEM NUSANTARA Wilayah Banten terhadap aksi demonstrasi yang dilakukan serikat buruh Banten tersebut.
Dalam vidio tersebut, BEM Nus Banten mengecam atas tindakan yang dilakukan oleh serikat buruh yang memasuki ruang kerja Gubernur Banten dan mendesak Polda Banten untuk menindak tegas dan menangkap oknum yang menurutnya telah melakukan anarakisme.
Menanggapi hal itu pula, Faiz Naufal mengatakan bahwa setiap orang sah dan bebas untuk berekspresi serta berpendapat selama tidak mencederai hak dan martabat orang lain, “Saya rasa itu sah-sah saja mereka ingin menyampaikan apa, namun sedikit disayangkan justru adanya desakan untuk penindakan dan penangkapan, terlebih belum adanya keterangan lebih lanjut informasi bahwa adanya fasilitas negara/ruang kerja (Gubernur) yang rusak dari kejadian tersebut. Karena yang saya lihat sendiri dari vidio yang beredar hanya gambaran buruh yang berfoto ria di kursi Gubernur dan ada yang mengambil minuman di kulkas” , ujarnya.
Diketahui bahwa, kenaikan UMP dan UMK diputuskan melalui musyawarah. Melalui proses dewan pengupahan dengan indikator dan variabel yang jelas termasuk melibatkan BPS yang mengukur pertumbuhan ekonomi, inflasi, kelayakan hidup dan lain-lain. Melalui kesepakatan Dewan Pengupahan, selanjutnya direkomendasikan kepada Gubernur.
“Saya meyakini betul, permasalahan kebijakan kenaikan UMP/UMK bukan hal yang mudah, karena banyak point dan indikator yang harus diperhitungkan. Namun seyogyanya , jika memang kita sebagai mahasiswa belum bisa memberikan solusi sebagai jalan keluar, setidaknya menjadi penengah atau jembatan bagi masyarakat untuk bisa memahami hal tersebut dan bukan malah memperkeruh keadaan. Terlebih ini menyangkut hak bagi masyarakat itu sendiri “.
Senada dengan Faiz, Pirdian Pratama Grapiudin, Wakil Presiden Mahasiswa DEMA UIN Banten mengatakan bahwa ” Polemik hari ini harus selesai, dengan adanya asas keterbukaan, sehingga terbangun kembali kepercayaan antar sesama. maka dengan ini, jika memang diperlukan. Kami rasa DEMA UIN Banten siap menjadi fasilitator untuk kawan-kawan Serikat Buruh, Pemprov Banten dan juga BEM Nus Banten untuk sama-sama duduk dan menyelesaikan perkara yang ada”, pungkasnya.
Terakhir, Pirdian juga berharap polemik ini selesai dengan baik dan Gubernur mau untuk bermusyawarah dengan pihak serikat buruh “Saya rasa tidak perlu lagi ada aksi tambahan di depan Mapolda, jugamasyarakat umum turut menjaga kondusifitas bernegara dengan tidak menebar hoak dan kebencian terhadap pihak lain, semoga juga Pak Gubernur mau hadir dan mendengarkan jika pihak serikat buruh ingin berdiskusi dan menyampaikan aspirasinya”.(Red)














