Sabtu, 02 Mei 2026

Geger Cilegon 1888 peristiwa bentuk upaya merebut kemerdekaan dan upaya mendirikan Pemerintahan.

Lugas.net, 8 July 2021, 15:51

Ditulis oleh :Bambang Irawan.

Cilegon, LN – Melihat daftar rapat-rapat yang diadakan oleh “anggota-anggota komplotan” antara bulan Pebruari dan bulan Mei 1888, seperti yang tampak dalam laporan resmi Pemerintahan Hindia Belanda hasil investigasi, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati, yaitu :

Geger Cilegon 1888 adalah peristiwa pemberontakan rakyat Banten terhadap pemerintahan Hindia Belanda, yang bertujuan untuk merebut kenerdekaan dan mendirikan pemerintahan yang berdaulat di Banten. Dalam peristiwa itu justru banyak para pejabat pemerintahan Hindia Belanda yang ikut berkomplot, misalnya Jaro atau Lurah dan Penghulu.

Dalam laporan tersebut, terlihat nama H.Mohamad Arsyad, beliau adalah Kepala Pengulu di Serang, tampak beberapa kali mengikuti kegiatan dalam rapat-rapat yang diselenggarakan pada bulan Pebruari s/d bulan Mei 1888 itu.Bahkan terkadang rapat diadakan di rumah H. Mohammad Singadeli di Kaloran, dan beliau adalah guru ngaji juga anggota Majlis Agama di pemerintahan Hindia Belanda.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, jabatan Penghulu mempunyai peranan yang sangat dominan bagi kepentingan umat Islam, sebab selain mengatur urusan yang berkaitan dengan persoalan ibadah, mencakup juga masalah pembagian hak waris dan lain sebagainya.

Oleh karena karenanya posisi penghulu ini terdapat di setiap distrik, misalnya distrik Tanara, distrik Cilegon dan lainnya yang dikepalai oleh seorang penghulu kepala, yang kedudukannya di Serang. Sementara itu di Banten lama sendiri mempunyai penghulu, yang khusus mengurusi wilayah eks kesultanan Banten.

Ketika peristiwa Geger Cilegon terjadi, penghulu di Banten lama bernama H. Afif. Dalam laporannya tampak H.Afif hanya sekali mengikuti rapat-rapat perencanaan pemberontakan yang terjadi di Banten.Dari posisi H. Afif ini saya ingin menggambarkan bahwa peristiwa pemberontakan rakyat Banten ini begitu solid dan menyeluruh serta, betapa pandainya rakyat Banten memegang teguh semangat perjuangan yang bersifat rahasia itu.

Sebenarnya sesuatu yang sulit diterima oleh akal pada masa itu, bagaimana mereka dapat menyimpan rahasia ini sampai sekian lama tidak sampai bocor dan terdengar oleh pemerintah Belanda, sekalipun didalamnya banyak terlibat pejabat pemerintah Hindia Belanda seperti yang sudah saya terangkan diatas.

Dan boleh dipastikan hanya rakyat Banten lah yang mampu memegang kuat rahasia seperti itu, sehingga sampai hari H nya, rahasia itu tidak pernah bocor, yang akhirnya Belanda merasa kecolongan dengan adanya peristiwa itu dan sekuruh jajaran pejabat pemerintahan yang ada di afdeling Anyar dibantai habis pada waktu itu.

Jika saja penyerangan (langkah selanjutnya) ke kota Serang tidak mengalami kendala teknis, tentu saja para para pejabat yang ada di karesidenan Banten itu mengalami nasib serupa, yang tentu saja implikasinya Banten dapat merdeka pada tahun 1888 itu. Dan tentu saja, gagalnya Banten meredeka pada masa itu bukan karena kurang solidnya gerakan tersebut namun nampaknya Tuhan punya sekenario lain, yaitu ketika 17 Agustus tahun 1945 terbentuklah NKRI, termasuk Banten ada didalamnya. Dan jika pada tahun 1888 itu Banten merdeka, entah apa yang terjadi.

Memang pada tiga bulan terakhir menjelang meletusnya peristiwa itu, yaitu pada tanggal 22 April 1888 ( tanggal 12 bulan Ruwah), di rumah H. Wasid, Beji, pernah diadakan sumpah untuk merahasiakan gerakan revolusi tersebut. Pada saat itu sebanyak 300 orang berkumpul di mesjid, dimana para kiyai dan murid-murid bersumpah :

  1. Bahwa mereka akan mengambil bagian dalam perang sabil.
  2. Bahwa mereka yang melanggar janji akan dianggap sebagai kafir.
  3. Bahwa mereka tidak akan membocorkan rencana kepada pihak luar.

Melihat kejadian itu cukup dimaklumi jika gerakan mereka tidak sampai terendus oleh Belanda. Akan tetapi justru jauh sebelum diadakan sumpah janji tersebut, sejak tahun 1887, rahasia ini pun tidak bocor. Pertanyaannya, Bagaimana gerakan itu dapat dirahasiakan terhadap penduduk Banten dan pejabat-pejabat pemerintah selama berlangsungnya persiapan-persiapan tersebut.

Sudah sejak awal tahun 1888 tersiar desas-desus dikalangan penganut-penganut tarekat kadiriyah bahwa sebentar lagi akan pecah perang sabil. Akan tetapi tidak ada yang mengetahui kapan dan dimana, serta terhadap siapa perang itu akan dilancarkan.

Sejak dari rapat awal/ permulaan maupun rapat pematangan diantara bulan Pebruari dan Mei (seperti terlihat dalam daftaŕ diatas), lokasi tempat rapatnya adalah Tanara, Kaloran, Serang, Terate dan Beji, Bojonegara.

Namun begitu menjelang pelaksanaan, justru diadakan rapat pematangan gerakan penyerangan di Jombang Wetan, di rumah H. Akhiya, pada tanggal 7 Juli 1888, hanya dihadiri oleh H. Mohamad Arsyad dan H. Iskak saja, sementara yang lainnya adalah mereka yang tidak pernah ikut rapat sebelumnya, seperti H. Saifudin dari Jaha, H. Madani dari Ciore, H. Mahmud Terate Udik, H. Tubagus Kusen Penghulu Cilegon dan H. Akhiya sendiri.

Sedangkan nama-nama yang terdapat dalam laporan tersebut termasuk pentolannya, yaitu H. Wasid dan H. Tubagus Ismail, justru tidak ikut dalam rapat akhir yang menentukan, tentang taktik serangan dan target penyerangannya’ akan tetapi mereka justru menunggu hasil rapat yang diselenggarakan di rumah H. Akhiya itu. Mereka menunggu sampai tengah malam di rumah H. Iskak, di Saneja. Kemudian malam itu juga mereka melanjutkan rapat di Saneja, yang kenudian pada pagi harinya, keputusan dari hasil rapat itu disebarluaskan ke pelbagai lokasi dan pada kiyai yang tidak hadir pada malamh itu.

Yang menarik untuk di cermati, mengapa rapat penentuan justru dilaksanakan di Jombang Wetan, di rumah H. Akhiya, dimana beliau tak pernah ikut terlibat dalam rapat-rapat sebelunnya.

Dan yang menarik untuk dicermati lagi adalah, dalam rapat sebelumnya telah disepakati bahwa H. Tubagus Ismail adalah calon raja dan H. Wasid ditunjuk sebagai patihnya, jika nanti penyerangan dimulai.namun anehnya, justru H. Wasid yang dinobatkan menjadi raja Banten, di rumah H. Akhiya, beberapa jam setelah dilaksanakan penyerangan. Dan pada Hari dimulainya penyerangan itu, H. Marjuki justru berangkat ke tamah suci. Padahal H. Marjuki pada rapat awal telah ditunjuk sebagai pemimpin pergerakan dalam peristiwa itu, dan sempat mengangkat H. Arsyad Thowil sebagai wakilnya.

Dalam kesempatan ini mungkin saya belum bisa memberikan analisa dan argumentasi, mengapa bisa terjadi fenomena seperti itu. Namun dalam kesempatan lain, Insya Allah saya akan sampaikan mengapa bisa begituh(*Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *