Cilegon, LN – Dunia jagat maya belakangan ini diramaikan dengan pemberitaan tembak menembak sesama aparat kepolisian dimana dalam kasus ini menyita perhatian publik dikarenakan banyaknya kejanggalan diawali pertama sekali konfrensi pers dilakukan pihak aparat kepolisian.
Banyaknya berita-berita liar yang mana mengarah kejanggalan-kejanggalan peristiwa tembak menembak ini sehingga pihak keluarga almarhum brigadir Yosua Hutabarat membuat laporan resmi kepada Bareskrim Polri yang mana tim pengacara di koordinatori Robinson Simanjuntak.
Sebagai pengamat publik Badia Sinaga berharap kepada semua pihak agar mempercayakan permasalahan ini kepada proses hukum untuk diselaikan secara terang benderang,dan silahkan diuji di pengadilan.
Bahkan kepada institusi Polri agar dapat membuktikan kepada publik bahwa kasus penembakan ini tidak akan pembentukan opini melainkan terbuka dan semua bentuk laporan diuji kebenaran sesuai alat bukti yang ada.
Jangan sampai kasus penembakan antara aparat kepolisian ini membuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian semakin menurut dimana
Lembaga survei Indikator Politik Indonesia (IPI) menggelar survei tingkat kepercayaan publik terhadap institusi negara di awal tahun 2022.
Dimana IPI mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap institusi Polri turun tajam.
Survei Indikator Politik dilakukan pada 6-11 Desember 2021, melibatkan sebanyak 2020 responden dengan sampel basis sebanyak 1.2
Berikut ini hasil survei terbaru IPI soal tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara (sangat percaya):
- TNI 27 persen
- Presiden 20 persen
- Polri 14 persen
- KPK 14 persen
- MA 12 persen
- MK 12 persen
- Pengadilan 11 persen
- Kejaksaan 9 persen
- MPR 7 persen
- DPR 6 persen
- DPD 6 persen
- Partai politik 5 persen.
Sebagai pengamat publik sangat percaya kasus ini akan ditangani secara terbuka secara terang-terangan hanya masyarakat dan publik diminta untuk bersabar dan terus mengawal kasus ini.(Red)
Oleh : Badia Sinaga














