Cilegon, LN – Program beasiswa Cilegon Juara kembali menuai kritik tajam. Kali ini, DPD Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah (Gema) Kota Cilegon, melalui ketuanya, Supardi, dengan lantang mempertanyakan efektivitas dan sasaran program yang dianggap tidak berpihak pada warga miskin Kota Cilegon.
Liris yang diterima redaksi lugas.net dari Gema Cilegon Menggugat:
- Data Desil Janggal: Supardi mengecam ketidaksesuaian data desil penerima beasiswa dengan realita di lapangan. “Banyak warga Cilegon yang hidup susah, banting tulang jadi buruh cuci, kerja serabutan, tinggal di kontrakan reot, tapi kenapa tidak masuk desil prioritas? Ada apa ini?” tanyanya dengan nada geram.
- PTN Luar Cilegon Diistimewakan? Laporan seleksi beasiswa menunjukkan dominasi mahasiswa yang diterima di PTN luar Cilegon yang ternama. Supardi mempertanyakan, “Apakah Pemkot Cilegon lebih bangga membiayai mahasiswa di PTN luar dari pada membantu mahasiswa Cilegon yang kuliah di PTS lokal? Ini tidak adil!”
- Logika Terbalik: Supardi dengan tegas menyatakan bahwa mahasiswa yang mampu kuliah di PTN bergengsi di luar Cilegon sudah pasti memiliki kemampuan finansial. “Yang tidak mampu itu mikir seribu kali untuk kuliah di luar Cilegon. Kenapa justru mereka yang diprioritaskan? Anak Cilegon yang sudah susah payah kuliah di Cilegon saja sudah bagus, kenapa tidak dibantu?”
- Buktikan! Supardi menantang Pemkot Cilegon untuk membuka data dan membuktikan bahwa penerima beasiswa di PTN luar Cilegon benar-benar berasal dari keluarga miskin dengan desil 1-5. “Jangan sampai beasiswa ini hanya dinikmati oleh anak-anak orang kaya yang kuliah di tempat mewah!”
Tuntut Keterbukaan dan Keberpihakan:
Gema Cilegon menuntut Pemkot Cilegon untuk segera berbenah dan memastikan program beasiswa Cilegon Juara benar-benar transparan dan berpihak pada warga miskin Kota Cilegon. “Kami tidak ingin beasiswa ini hanya jadi ajang pencitraan dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Prioritaskan anak-anak Cilegon yang benar-benar membutuhkan!” tegas Supardi.(Red)














