Oleh : Dr. M. Asholahudin, M. Pd.
Cilegon, LN – Ada bagian yang menarik dalam pendekatan pembelajaran mendalam yaitu istilah “ schooling without learning”. istilah yang bisa membawa perubahan yang besar bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Sebuah istilah yang menyadarkan bagi kalangan akademisi dan pendidikan untuk melakukan perubahan dan perbaikan demi meningkatkan mutu siswa yang bisa bersaing dalam dunia global. Secara sederhananya, istilah ini menggambarkan bahwa siswa berangkat ke sekolah, duduk dan belajar setelah itu pulang ke rumah mereka masing-masing tetapi tidak mendapatkan hasil.
Lebih lanjut dijelaskan terkait “ schooling without learning” kondisi siswa yang secara fisik hadir di sekolah, mengikuti semua aktivitas, formalitas, tetapi tidak memperoleh pengetahuan yang bermakna, pemahaman konsep, atau keterampilan berpikir kritis yang substansial dan bermakna.
Munculnya istilah ini merupakan sebuah kritik terhadap metode proses pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan tanpa pembelajaran bermakna yang disinkronisasikan dalam kehidupan dunia nyata siswa. Fenomena menyebabkan munculnya siswa kurang keterampilan kritis, rendahnya motivasi siswa, serta berdampak negatif pada kualitas pendidikan secara komprehensif. Dalam waktu yang sama, siswa mampu menghapal fakta, rumus, atau definisi dalam materi pembelajaran, namun siswa tidak mampu memahami makna di balik pembelajaran itu, apalagi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran menjadi dangkal karena siswa hanya mengingat informasi tanpa disertai dengan pemahaman yang memadai.
Fenomena “schooling without learning” tidak memiliki sejarah khusus sebagai sebuah konsep yang ditemukan secara formal, tetapi lebih merupakan sebuah deksripsi masalah yang sudah ada sejak lama di dunia pendidikan, yaitu siswa hadir ke sekolah tetapi tidak mendapatkan pengetahuan yang bermakna dalam kehidupannya. Siswa hadir, naik kelas, setelah itu lulus, tetapi tidak mempunyai kompetensi lulusan tidak terwujud.
Fenomena ini sering juga disebut dengan learning crisis atau krisis pembelajaran, dimana lulusan sekolah tidak memiliki kemampuan dasar seperti literasi, numerasi, pemecahan masalah, atau keterampilan hidup.
Istilah “schooling without learning” mulai banyak dibicarakan sejak dekade tahun 1970 yang mengkritik sistem pendidikan oleh tokoh ekonom pendidikan seperti Philip dan Ivan Illich.
Keduanya memberikan argumentasi yang tajam terkait sistem aktivitas di sekolah yang disibukkan dengan rutinitas birokrasi, ujian, dan ijazah ketimbang memperhatikan hasil siswa dalam hal keterampilan dan pemahaman yang bermakna.
Istilah “schooling without learning” menjadi populer setelah dipopulerkan oleh World Bank dalam laporan World Development Report tahun 2018 : learning to realize education’s promise. Siswa bersekolah, tetapi tidak memperoleh kemampuan dan pengetahuan dasar yang seharusnya siswa dapatkan.
Banyak siswa tidak bisa membaca atau menghitung sederhana meski bertahun-tahun bersekolah. Menurut World Bank pendidikan harus bergeser dari schooling (sekolah hanya formalitas) ke learning (sekolah yang menghasilkan keterampilan nyata).
“schooling without learning” adalah sebuah krisis pendidikan global, dimana sekolah ada, tetapi hasil belajar tidak tercapai secara maksimal.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya “schooling without learning” dikutip dari beberapa sumber diantaranya adalah kualitas guru dan praktik proses pembelajaran, kurikulum tidak relevan dan terlalu padat, ketimpangan akses terhadap sumber belajar, faktor sosia ekonomi, tingginya rasio murid terhadap guru, evaluasi dan sistem penilaian yang lemah.
Kualitas guru menjadi faktor terpenting dalam kemajuan pendidikan, karena guru berperan langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Guru yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang baik mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta memfasilitasi siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam. Dalam kenyataannya, masih ada guru yang menghadapi keterbatasan dalam akses pelatihan berkelanjutan dan pendampingan profesional, sehingga proses pembelajaran sering kali bersifat konvensional dan kurang inovatif.
Selain itu, proses pembelajaran yang tidak berorientasi pada kebutuhan siswa dan kurikulum yang kurang relevan dengan perkembangan zaman dan konteks kehidupan yang nyata. Kurikulum terlalu padat, teoritis, dan tidak menekankan keterampilan abad ke-21 menyebabkan siswa sulit mengaitkan materi pengalaman sehari-hari, sehingga berakibat proses pembelajaran cenderung berfokus pada pencapaian nilai daripada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.
Faktor lainnya, ketimpangan sumber daya pendidikan dan faktor ekonomi juga memperbesar kesenjangan kualitas pembelajaran.
Sekolah di daerah perkotaan dengan fasilitas lengkap dan dukungan ekonomi yang memadai jelas lebih unggul dibanding dengan sekolah di daerah terpencil yang kekurangan sarana, prasarana,maupun tenaga pendidik.
Siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi rendah juga sering menghadapi keterbatasan akses pendidikan bermutu, mulai minimnya fasilitas belajar di rumah hingga resiko putus sekolah. Ketidakseimbangan ini pada akhirnya memperkuat lingkaran masalah “schooling without learning”, dimana siswa hadir di sekolah tidak mendapatkan pembelajaran yang bermakna.
Fenomena “schooling without learning” menunjukkan bahwa kehadiran siswa di sekolah tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mereka dalam memahami dan menguasai pengetahuan serta keterampilan yang esensial. Siswa lulus dari jenjang pendidikan tertentu, tetapi tidak mampu membaca, menulis, berhitung, ataupun berpikir kritis sesuai standar usia dan kelasnya.
Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan serius antara tujuan pendidikan dengan hasil nyata yang diperoleh di lapangan.
Salah satu penyebab utama “schooling without learning” adalah praktik pembelajaran yang menekankan hafalan n penyelesaian kurikulum dibandingkan pemahaman mendalam.
Guru sering terjebak pada target materi dan evaluasi berbasis ujian, sehingga siswa belajar hanya untuk lulus tanpa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Akibatnya, meskipun siswa mampu mengingat informasi, mereka kesulitan mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menawarkan solusi untuk mengatasi masalah ini. Deep learning menekankan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar melalui pemecahan masalah nyata, diskusi reflektif, kolaborasi, serta pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaborasi. Dengan cara ini, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolah, memahami, dan mampu menggunakannya dalam berbagai konteks.
Integrasi deep learning dalam kelas menuntut perubahan paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered). Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk mengekplorasi gagasan, mengajukan pertanyaan kritis, dan menemukan makna dari pembelajaran.
Proses ini membantu siswa membangun pemahaman yang lebih tahan lama dan relevan dengan kehidupan mereka, sehingga mengurangi potensi “schooling without learning”.
Selain itu, deep learning dapat membantu mengatasi ketidakrelevannya kurikulum dan ketimpangan sumber daya. Melalui pendekatan berbasis proyek, kolaborasi, dan penggunaan teknologi. Siswa di berbagai konteks bisa memiliki pengalaman belajar yang lebih setara dan bermakna.
Pendekatan ini juga memungkinkan fleksibilitas dalame menghubungkan materi pembelajaran dengan realitas sosial, budaya, dan ekonomi yang dihadapi siswa.
Pembelajaran mendalam dapat menjadi jawaban atas fenomena “ schooling without learning”, yaitu kondisi di mana siswa bersekolah, namun tidak memperoleh keterampilan, pengetahuan, maupun kemampuan berpikir yang bermakna.
Dengan menekankan pada pemahaman konsep, keterkaitan antar pengetahuan, serta pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Pembelajaran mendalam memastikan siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam berbagai konteks kehidupan nyata. Hal ini membuat proses pembelajaran lebih relevan, bermakna, dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
Lebih jauh, pembelajaran mendalam mendorong keterlibatan aktif siswa melalui kolaborasi, refleksi, dan pemecahan masalah autentik. Dengan pendekatan ini, sekolah bukan sekedar tempat transfer informasi, tetapi menjadi ruang transformasi intelektual dan sosial yang mencegah terjadinya kesenjangan antara jumlah tahun sekolah dan kualitas hasil belajar.
Dengan demikian, penerapan pembelajaran mendalam menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jika dilakukan secara konsisten, pendekatan ini dapat memastikan bahwa sekolah bukan sekedar tempat hadir secara fisik, melainkan ruang di mana siswa benar benar belajar, memahami, dan menguasai keterampilan hidup yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, deep learning dapat dipandang sebagai jembatan untuk keluar dari jebakan “schooling without learning” menuju pendidikan yang lebih adil, bermakna, dan transformatif.(Red)
Oleh : Dr. M. Asholahudin, M. Pd. (Kepala SMPN Satu Atap Cilegon Dan Dosen Universitas Al- Khairiyah).














