Merak, LN – Cafe sold out yang berada di bibir pantai mabak, kelurahan mekar sari, kecamatan pulo merak, Cilegon,Banten selama musim pandemik covid-19 menjalankan protokol kesehatan.
Hal ini disampaikan Owner Cafe sold out Muhammad imam kepada lugas.net rabu 17/02/2021,perihal adanya pemberitaan media online dengan portal “Bharindo Banten” dengan judul ‘CAFE SOLD OUT MERAK LUPUT DARI PANTAUAN PETUGAS SATGAS GUGUS COVID 19 KOTA CILEGON’ menurut Muhammad Imam pemberitaan itu tidak benar, dimana disebut tidak pernah di kunjungi petugas gugus tugas covid-19.
“Bagi saya berita itu berlebihan, dimana usaha saya selalu menerapkan prokes, bahkan jam buka usaha kita batasi, ” Imbuh Imam.
“Dan disebutkan dalam berita tersebut waitress (pelayan) berdekatan dengan pengunjung, kesennya Pelayan saya wanita, padahal pelayan saya selama ini laki-laki, itu juga 2 orang, ” tuturnya.
“Saya sendiri selama musim pandemik mengalami buka tutup dan omzet turun akibat kondisi dan arahan dari gugus tugas covid-19,dimana bisa usaha saya luput, ” tandasnya.
Lanjut Imam”usaha ini buka dari siang hari jam 2 an,dan tutup jam 12,dan musik Karoeke tidak boleh lagu Dangdut dan sejenis nya,hanya lagu melankolis nuansa Pop,itu arahan dari lingkungan,dan menu makanan ringan dan beranekaragam juss, “pungkas Imam.
“Saya meminta kepada wartawan yang menulis berita ini supaya berimbang informasi mestinya konfirmasi pihak saya sesuai Berdasarkan undang-undang pokok pers, bahwa wartawan harus indipenden dan berimbang, ” tutup nya.
Sebelum nya ada berita “Feriyana ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Jaringan Masyarakat Anti Korupsi dan Kekerasan (LSM JAMBAKK) saat sedang berkujung melihat sebuah Cafe sold out di pinggir pantai merak mungkin karena larut eforia ataupun memang lenggah, Tidak ada pengumuman resmi dari gugus tugas apakah memang diberikan izin untuk buka, namun kenyataannya tempat-tempat hiburan malam Cafe sold out seperti yang ada di kawasan pesisir merak Beberapa wanita kemudian berdatangan. Mereka bertugas memikat para tamu-tamu agar tempat usaha menjadi rame. Sayangnya, tempat-tempat hiburan malam tersebut buka tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Lebih sayang lagi, petugas termasuk gugus tugas terkesan tutup mata”(Hendro).













